Parlementaria
DPRK Banda Aceh
Anggota DPRK Banda Aceh, Tgk Muhibban H.M Hajat, mengkritisi proses belajar-mengajar di sekolah agar segera ditinjau kembali. Karena, banyak sekolah yang belajar selama 10 jam sehari - mulai pukul 07.30 WIB sampai pukul 17.45 WIB, sehingga banyak pelajar atau siswa baru tiba di rumahnya sudah magrib bahkan ada yang malam hari.
Koreksi tersebut, disampaikan Tgk Muhibban dalam sidang paripurna dewan kota, kemarin, menjelang pengesahan anggaran APBK 2014 akhir bulan Nopember 2013 ini. Belajar dipaksakan sampai 10 jam seharian penuh, dinilai tidak bisa diserap secara efektif oleh siswa.
“ Saya minta, Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh tinjau kembali sekolah yang menerapkan jam belajar sampai pukul 17.45 WIB bahkan ada yang jam 18.00 WIB. Kami sarankan cukup sampai ashar saja, sehingga siswa lebih cepat sampai ke rumah dan tidak magrib di jalanan,” pinta anggota dewan dari Frakti PDA.
Mutu pendidikan Kota Banda Aceh, diakuinya, sukses di propinsi Aceh dan juga tercatat baik ditingkat nasional. Namun, tidak memaksa si-siswa belajar sampai sore hari – karena sebagian pelajar juga belajar pengajian pada malam harinya , sehingga waktu sehari semalam habis dalam belajar saja. Keadaan ini, bisa menjemukan siswa dan dipastikan tidak mungkin semua ilmu mampu dipelajari secara maksimal.
Tgk Muhibban mengkhawatirkan, penggunakan waktu belajar selama 10 jam sehari – hanya untuk menutupi kecukupan waktu belajar guru sebagai syarat lolos sertifikasi setiap bulannya, agar mendapat hak mereka. Kalau amsumsi ini benar, maka sangat disayangkan - siswa menjadi korban “waktu” sepanjang tahun.
Selain pendidikan, mantan calon walikota Banda Aceh ini, juga menyorot soal jerih paya keuchik di 92 desa dalam kota yang dinilainya belum memadai. Keuchik yang bekerja belasan jam sehari malamnya - hanya dibeli upah oleh Balaikota sebesar Rp 1,2 juta perbulan.
Angka nominal tersebut masih dibawah Upah Minimum Regional (UMR), Tgk Muhibban meminta dinaikkan dalam rencana anggaran tahun depan menjadi Rp 1,5 juta dan terus ditingkatkan dari tahun ke tahun, sehingga sesuai dengan pekerjaan yang diemban para keuchik di Kota Banda Aceh . Ke depan upah mereka bisa menyamai UMR bahkan lebih tinggi dari UMR.
“Kita sama-sama tahu, bagaimana peran keuchik di desa masing-masing dalam mengurus warganya dari pagi hingga malam hari – untuk berbagai kepentingan warga desanya. Sangat wajar, bila upah mereka disesuaikan dengan waktu dan tenaga yang diberikan dalam membangun desa,”ungkap Wakil Ketua Komisi D ini.
Hal yang sama juga perlu ditingkatkan upah bagi kader pos yandu di desa-desa. Selama ini, mereka hanya mendapatkan jerih payah Rp 100 ribu perbulan. Uang tersebut bila dibagi empat, sebagaimana aktifitas mingguan mereka - kader pos yandu hanya dapat Rp 25 ribu perminggu. Ke depan, disarankan agar Pemko Banda Aceh dapat menambahknnya menjadi Rp 400 ribu perbulan. Kenaikkan itu, dinilai sangat manusia – mengingat jasa mereka untuk menyehatkan balita sangat penting bagi generasi sehat di masa mendatang.
Sedangkan untuk mengawal syariat, Tgk Muhibban, minta Dinas Syariat Islam Banda Aceh harus memperkuat dan meningkatkan kinerja Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kota. Kini, pegawai syariat yang ada hanya 100 orang – ternyata belum cukup memadai untuk mengurus sebuah ibukota propinsi yang terus bertumbuh – seiring munculnya berbagai poblematika yang berkembang di era globalalisasi ini.
Untuk itu, perlu segera penambahan pegawai Satpol PP/WB menjadi 150 orang. Tgk Muhibban yakin, dengan penambahan personil 50 orang lagi – mobilitas pasukan dilapangan untuk memantau berbagai sudut kota lebih mudan dan cepat terjangkau, sehingga penegakkan syariat Islam sebagai rencana pemko dan harapan warga kota bisa terwujud dalam waktu dekat.
“Kalau benar-benar ingin menegakkan syariat Islam di Banda Aceh, Balaikota harus serius meningkatkan kinerja Satpol PP/WB. Salah satunya, dengan segera menambah personil lapangan yang sudah sangat mendesak. Tak mungkin, dengan tenaga terbatas, mereka bisa mengawal kota selama 24 jam yang lumanyan luas ini,”tutur ustat yang sering diundang ceramah ke masjid-masjid ini, berharap.(*)