Jakarta, 4/11 (Antara) - Hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) menunjukkan bahwa elektabiltas PDIP unggul tipis atas partai Golkar dan Demokrat, sementara elektabilitas Demokrat semakin menurun.
"PDIP menjadi partai pilihan publik dan mampu menggesar elektabilitas Partai Demokrat sebagai pemenang Pemilu 2009 dan Partai Golkar sebagai pemenang Pemilu 2004, kata Direktur eksekutif LSIN, Yasin Mohammad, di Jakarta, Rabu.
Survei nasional LSIN elektabilitas Parpol ini dilakukan rentang waktu 1-15 Oktober 2013, melibatkan 1.500 responden dari 34 Provinsi di Indonesia di tambah beberapa responden dari luar negeri dengan maksud untuk menjajaki aspirasi publik terhadap elektabilitas Parpol.
Yasin Mohammad, menjelaskan responden diajukan pertanyaan jika Pemilu dilaksanakan hari ini anda akan memilih partai apa? Responden sebagian besar memilih PDIP, disusul kemudian Partai Golkar, Partai Demokrat, Gerindra dan PKS.
Berdasarkan hasil survei LSIN elektabilitas PDIP menempati posisi teratas dengan selisih tipis atas Golkar. Saat ini tingkat keterpilihan PDIP sebesar 17,3 persen, disusul kemudian Golkar 16,2 persen, Partai Demokrat berada diurutan ketiga dengan elektabilitas 13,1 persen, Gerindra 10,0 persen, PKS 6,1 persen, PAN 5,0 persen, PKB 4,5 persen, Hanura 4,3 persen, PPP 4,1 persen, NASDEM 3,6 persen, PBB 2,5 persen, dan PKPI 1,4 persen, selebihnya 10,9 persen tidak menjawab atau tidak tahu.
Hasil survei itu menunjukkan pula telah terjadi perubahan peta kecenderungan pemilih dibanding pemilu tahun 2009, pada Pemilu 2009 Partai Demokrat menjadi pemenang Pemilu dengan perolehan suara 20,85 persen, disusul Golkar 14,45 persen dan PDIP 14,03 persen.
Pemilu 2014 mendatang memungkinkan terjadi perseteruan sengit tiga parpol besar pemilu 2009 tersebut dengan Gerindra sebagai kuda hitam, prediski direktur eksekutif LSIN itu.
Jika tidak ada kesalahan besar yang dilakukan PDIP dan tidak ada inovasi cemerlang yang dibuat oleh partai lain, maka PDIP akan mengulangi sejarah Pemilu 1999 dan menjadi pemenang pemilu 2014.
Minat Pemilih
Berdasarkan hasil survei LSIN, apresiasi positif diberikan oleh responden kepada PDIP, PDIP diminati secara luas dan dari beragam segmen pemilih baik dari sisi geografi, ekonomi, pendidikan dan usia pemilih. Secara geografis, dukungan terhadap PDIP merata di seluruh Provinsi di Indonesia, PDIP juga menjadi pilihan bagi kalangan ekonomi atas dan bawah, dari aspek pendidikan juga merata ke responden pendidikan rendah dan tinggi, dari aspek usia PDIP juga mampu merebut kalangan anak-anak muda, dewasa, dan orang tua.
Yasin Mohammad, menambahkan bahwa fenomena tersebut tidak lepas dari peran PDIP yang menempatkan diri sebagai partai oposisi pemerintah, sebagai oposisi pemerintah PDIP mampu menggaet simpati publik dengan sikap kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Kader-kader internal PDIP juga memberikan sumbangan besar terutama keberadaan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta yang selalu menjadi sorotan media dan publik. Munculnya tokoh-tokoh muda di PDIP dan minimnya kasus korupsi yang mendera kader PDIP adalah kunci utama. Jika PDIP mampu menjaga ritme yang berjalan, tidak menutup kemungkinan memenangkan pemilu 2014.
Sementara elektablitas Golkar, berada di bawah PDIP dengan selisih tipis. Sebagai partai besar, Golkar memperoleh dukungan dari responden secara geografis merata di seluruh Provinsi. Kantong-kantong suara Golkar masih kuat pada wilayah-wilayah yang menjadi basis suara Golkar, seperti Provinsi Banten, Kalimantan, Sumatra, dan Papua, masih tersebar kantong-kantong suara loyalis dan simpatisan Golkar.
Diurutan ketiga adalah Partai Demokrat, elektabilitas PD turun drastis dibanding hasil pemilu 2009, adalah kasus korupsi yang menjerat kader-kader PD dan perseteruan internal PD yang menyumbang besar turunnya minat responden terhadap partai berlogo mercy tersebut. Dukungan terhadap PD secara geografis memang merata di seluruh Provinsi akan tetapi jumlahnya tergerus karena citra buruk pemerintah saat ini yang dipimpin dari kader Partai Demokrat dan banyaknya kader Partai Demokrat yang terjerat kasus korupsi.
Kemudian Gerindra diurutan keempat dan memungkinan menjadi kuda hitam pada Pemilu 2014, sosok sentral Prabowo menjadi faktor utama mendongkrak elektabilitas Gerindra. Kemudian PKS berada di posisi kelima dibuntuti oleh PAN diurutan keenam.



